in , ,

Kuliner Legendaris Malang, Paling Tua Sejak 1935

Selain dikenal sebagai kota pendidikan, Malang juga memiliki potensi wisata kuliner yang besar. Banyak tempat makan di Malang yang keberadaanya sudah puluhan tahun dan kini dikelola oleh generasi kedua hingga ketiga. Kotanya yang sejuk, menambah menarik perjalanan kuliner di Kota Malang. Mulai dari orem-orem, pecel rawon, cwie mie, hingga kudapan manis seperti ronde dan kue puthu, siap manjakan lidah Teman Liburan yang ingin berlibur sekaligus kulineran di Kota Malang. Penasaran dengan lokasinya dan rasanya? Simak ulasan Tim Pergiliburan, yuk!

Orem-Orem Pertukangan H. Moch. Syahri (sejak 1989)

Kuliner Malang: Orem-orem
Warung orem-orem Bapak H. M. Syahri. Foto: Tim Pergiliburan.

Apa sih itu orem-orem? Awalnya, tim pergiliburan pun asing dengan nama makanan yang satu ini. Setelah datang dan bertanya kepada si penjual, ternyata orem-orem adalah makanan yang terbuat dari potongan tempe yang dimasak bersama kuah santan kental. Cara penyajiannya, potongan ketupat diberi rebusan taoge lalu disiram kuah santan dan terakhir dituang sedikit kecap manis dan sambal.

Kuliner Malang Orem-orem
Orem-orem khas Malang. Foto oleh: Tim Pergiliburan.

Rasa orem-orem dominan manis dan gurih dari penggunaan santan. Kuah santannya mirip dengan kuah sayur lodeh hanya saja kuah orem-orem terbuat dari santan kelapa yang lebih kental. Potongan ketupatnya lembut dan rebusan taogenya masih terasa krenyes saat dimakan. Ada yang menarik perhatian saat tim pergiliburan memesan orem-orem di warung milik Bapak H. Moch. Syahri ini, nampak ketupat yang ukurannya sangat besar menggantung di sekitar pintu masuk. Sangat unik. Warung ini tidak terlalu luas, kebanyakan pelanggan menikmati orem-orem dengan kursi plastik di depan toko-toko tutup dekat warung.

Warung Malam Nasi Pecel & Rawon Ngaglik (sejak 1970)

Pecel rawon kuliner favorit di Malang
Pecel kuah rawon Warung Malam. Foto oleh: Tim Pergiliburan.

Nasi pecel dicampur kuah rawon ini adalah menu yang cukup populer di Kota Malang. Gimana nggak? Perpaduan gurih dan manis bumbu kacang dicampur kuah rawon yang kaya rempah bikin siapa saja yang menikmatinya ketagihan. Selain menu rawon dan pecel, teman liburan juga bisa pilih aneka pendamping seperti perkedel jagung, tempe goreng, jeroan goreng, sate usus, sate daging dan masih banyak pilihan lainnya. Seporsi pecel rawon dibandrol dengan harga 10 ribu saja, tergolong murah bukan? Teman liburan jangan takut kehabisan pecel rawon Warung Malam ya, karena warung ini buka 24 jam!

Depot Hok Lay (sejak 1946)

Kuliner legendaris Malang
Es Fosco di Depot Hok Lay. Foto oleh: Tim Pergiliburan.

Depot satu ini terkenal dengan Es Fosco, apalagi kalau bukan Depot Hok Lay! Teman liburan pasti penasaran, terbuat dari apa sih minuman fosco itu? Minuman fosco terbuat dari susu sapi segar yang dicampur dengan cokelat. Konon minuman ini berasal dari pulau kecil di Belanda bernama Friesland. Dahulu minuman ini diperkenalkan oleh bangsa Belanda di era penjajahan sekitar tahun 1930an. Buat tim pergiliburan, rasa minuman ini manis sekali dengan rasa cokelat yang kental. Cocok sekali buat teman liburan yang hobi minum minuman manis. Menyegarkan!

Cwie Mie Hok Lay Malang
Cwie Mie. Foto oleh: Tim Pergiliburan.

Selain Es Fosco, depot Hok Lay juga terkenal dengan menu andalan lainnya yaitu Cwie Mie dan Lunpia Semarang. Ciri khas cwie mie ada pada penggunaan ukuran mie yang lebih kecil, selebihnya sama dengan hidangan mie pada umumnya berisi taburan daging ayam cincang, daun bawang, selada dan pangsit goreng. Terakhir, diguyur dengan kuah bening gurih sesuai selera. Kalau lunpia Semarang, isian di dalamnya berupa rebung, yang ditambah sayuran lainnya. Biasa disajikan bersama saus tauco manis, selada, dan daun bawang. Depot Hok Lay punya lunpia basah atau goreng, jadi bisa pilih sesuai kesukaan teman liburan!

Ronde Titoni 1948 (sejak 1948)

Kuliner Malang: Ronde Titoni
Ronde Titoni dipenuhi pengunjung. Foto oleh: Tim Pergiliburan.

Buka malam hingga subuh, Ronde Titoni memang jadi pilihan yang pas untuk menghangatkan tubuh didinginnya kota Malang. Setibanya tim pergiliburan disana, semua meja penuh dengan pelanggan. Jadi, harus sabar menunggu pelanggan lain selesai menikmati ronde. Selain ronde basah, disini juga ada ronde kering dan ronde campur. Nah, buat teman liburan yang kurang suka dengan ronde, ada pilihan lain kok yaitu angsle dan kacang kuah. Kata salah satu pelanggan Ronde Titoni, cakwe dan roti gorengnya juga enak, tapi sayang tim pergiliburan kehabisan saat berkunjung kesana.

Kuliner Malang: Ronde dan Angsle
Ronde dan Angsle di Ronde Titoni. Foto oleh: Tim Pergiliburan.

Ronde dan angsle yang tim pergiliburan coba semuanya bikin ketagihan. Kuah jahe rondenya hangat, tidak terlalu manis, bola-bola ketan dengan isian kacangnya bertekstur kenyal dan terasa gurih manis. Angsle juga tidak kalah menarik, dengan isian potongan roti tawar, rebusan kacang hijau, biji mutiara, putu mayang, dan ketan putih lalu diberi santan. Semuanya disantap selagi hangat!

Warung Soto dan Rawon Kiroman (sejak 1950)

kuliner legendaris: warung kiroman
Warung Kiroman dan kerupuk super besar khas Malang. Foto oleh: Tim Pergiliburan

Warung dengan warna pintu birunya yang khas dan suasana rumahan yang kental. Ada satu lagi yang menarik perhatian, yaitu kerupuk ukuran super besarnya! Tempat makan disini tidak terlalu luas, namun penuh dengan pelanggan. Kebanyakan pelanggan yang datang pagi itu memesan menu soto dan rawon, didampingi teh atau kopi hangat.

kuliner rawon
Sarapan rawon dan nasi campur di Warung Kiroman. Foto oleh: Tim Pergiliburan.

Tim pergiliburan juga memesan rawon dan soto, dengan tambahan menu nasi campur. Saat semua pesanan diantar ke meja, datang lagi satu nampan penuh lauk pendamping. Mulai dari tempe goreng, perkedel, empal goreng, ayam goreng, dan jeroan goreng lainnya. Rawon jadi salah satu kuliner andalan Kota Malang, masih banyak lagi warung makan yang menjual menu rawon sebagai menu utamanya. Teman liburan juga bisa mencoba nasi rawon di Waroeng Rampal, yang memiliki rasa tak kalah nikmatnya dengan rawon di Warung Kiroman.

Warung Steven Heci Klenteng (sejak 1960)

Tempatnya memang sedikit tersembunyi, tapi banyak yang rela datang kesini demi bisa mencicipi heci alias ote-ote. Teman liburan harus masuk ke dalam Klenteng Eng An Kiong lalu menuju basement. Ote-ote disini sedikit berbeda, karena di dalamnya diberi isian ayam, babi, jamur, tiram, atau udang yang ditambah sedikit nori (rumput laut goreng).

Selain ote-ote, Warung Steven juga menjual lumpia, roti goreng, dan cakwe. Tim pergiliburan memesan ote-ote dengan isian ayam, babi, dan udang serta cakwe isi ayam. Tekstur ote-otenya renyah diluar dan lembut didalam karena isiannya tebal. Terasa gurih dan sedikit manis dari dagingnya. Paling favorit pastinya ote-ote dengan isian babi! Selanjutnya kuliner Malang apa lagi ya?

Ayam Panggang Pak No (sejak 1970)

Ayam Panggang Pak No, kuliner kota Malang yang direkomendasi langsung oleh warga asli Malang. Saat tim pergiliburan mencicipi sate di salah satu warung daerah Pasar Bunul, kami diberitahu untuk mencoba ayam panggang satu ini. Ternyata setelah dicoba, kami ketagihan! Ayam panggannya memang tampak biasa saja, tapi kalau soal rasa ini juara. Empuk dan mudah dilepas dari tulangnya.

Ayam disini diberi bumbu rujak berupa campuran tomat, cabai, dan rempah lainnya yang dihaluskan. Bumbunya dioleskan sebelum dan saat daging ayam dipanggang, itu sebabnya bumbu benar-benar meresap ke dalam daging dengan cita rasa manis gurih. Disajikan bersama sambal uleg, kecap manis dengan taburan bawang goreng, pastinya nasi putih hangat. Kuliner Malang yang wajib teman liburan coba!

Es Teler Dempo No. 7 (sejak 1978)

Siapa yang sih yang nggak tergugah kalau lihat tumpukan buah durian seperti ini? Udara kota Malang memang sejuk, tapi masih enak buat nikmatin macam-macam menu es disini. Sepanjang Jalan Gede, Kota Malang, semuanya menjual kudapan manis berupa es teler, tapi Es Teler Dempo No. 7 ini yang paling banyak direkomendasi.

Selain es teler, tim pergiliburan juga pesan Es Mocca Durian! Semangkuk Es Mocca Durian berisi alpukat yang dihancurkan, daging buah durian, serutan es, susu kental manis, dan terakhir sirup mocca. Rasa mocca yang dominan dengan manis yang pas, ah nostalgik sekali!

Puthu Lanang (sejak 1935)

Nah, ini nih kuliner paling tua yang sudah tim pergiliburan coba. Puthu Lanang sejak 1935, lho! Kalau teman liburan punya rencana coba kudapan manis satu ini, harus siap antre yang lumayan panjang ya. Buka mulai pukul 17.30, Puthu Lanang tak pernah sepi pengunjung. Jajan yang dijual ada cenil, lupis, klepon, dan yang pasti puthu. Sayang sekali, saat tim pergiliburan berkunjung kesana, kami kehabisan kue puthu. Tapi rasa sedih sedikit terobati karena si bapak penjual yang sangat kocak menghibur para pelanggan yang rela antri demi jajanan buatannya. Sebungkus jajan campur dibandrol dengan harga 10 ribu rupiah.

 

Sekian ulasan dari Tim Pergiliburan untuk kuliner di Kota Malang! Sudah tergoda belum dengan makanan dan kudapan manis yang ada? Ayo, yang punya agenda berlibur tahun 2020 di Malang, jangan lupa cicipi rekomendasi diatas ya! Dijamin teman liburan bakal kangen sama makanannya. Sampai jumpa di makan-makan berikutnya. (mas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tempat Wisata Cocok Untuk Libur Tahun Baru

Liburan di Saigon, Ini Objek Wisata yang Wajib Dikunjungi!